Kamis, 16 Januari 2014

Makassar Trip ke-2


Daripada tiket promo Jkt-Makassar PP yang sudah dibeli 1 tahun yang lalu tidak terpakai, akhirnya terbang juga untuk kedua kalinya saya ke Makassar, Sulawesi Selatan. Sebenarnya rencana awal mau ngeransel ke Tanah Toraja saja, tapi karena setelah dihitung2 waktunya agak mepet, jadinya menginap di kota Makassar saja. sebagai gantinya, kita akan mengunjungi dusun Ramang-Ramang di kabupaten Maros yang terkenal dengan kawasan karst yang indah.

Perjalanan dimulai dari Serpong menuju terminal 3 bandara Soekarno-Hatta jam 7 malam. Kita bawa kendaraan motor, karena tarif parkir menginap untuk motor sangat murah, hanya 2.000 rupiah sekali parkir. Jadi parkir selama 4 malam kita hanya membayar 2.000 rupiah saja.

Karena Airasia merubah jadwal terbangnya dari Jakarta ke Makassar dari 2x sehari menjadi 1x penerbangan saja sehari, jadinya kami harus berangkat jam 9.30 malam yang tadinya harusnya berangkat dengan penerbangan pagi. Sampai di Makassar jam 01.00 dinihari, setelah turun dari pesawat kami tidak keluar dulu dari bandara, tapi langsung naik tangga menuju ruang tunggu di lantai 2 untuk tidur. Suasana bandara masih cukup ramai, tapi menjelang jam 6 pagi, suasana ruang tunggu menjadi sepi.

ruang tunggu bandara, cukup banyak bangku2 kosong untuk tiduran


Jam 7 pagi kami siap2 menuju kota makassar naik Damri, tapi sebelum keluar bandara mampir dulu di lounge bandara di lantai 2 untuk ngopi dan sarapan gratis. Hari ini kami habiskan waktu di kota Makassar saja. Kami sewa motor untuk berkeliling Makassar dengan tarif 70rb perhari.

Damri Bandara-kota Makassar




Lapangan Karebosi


Hari ke-2 kami akan menuju desa Ramang-Ramang di kabupaten Maros. Jalan menuju arah bandara pagi ini sangat padat dan macet, ditambah lagi hujan gerimis sepanjang perjalanan. Tapi dari Bandara menuju jalan poros Pangkep cukup lancar. Setelah 2 jam perjalanan dari hotel, sampailah kami di pertigaan jalan menuju pabrik semen Bosowa. dari pertigaan ini untuk menuju desa Ramang-Ramang sudah cukup dekat sekitar 1 km.

Jalan poros Pangkep


sepanjang jalan menuju desa Ramang-Ramang kita akan disuguhi pemandangan yang sangat luar biasa. Sawah-sawah yang hijau dikelilingi tebing-tebing batu karst yang membentang dari ujung ke ujung.

jalan menuju desa Ramang-ramang


mendekati rumah penduduk, jalan masih  rusak


Akhirnya sampai di rumah penduduk, dan kami titip motor di warung untuk melanjutkan perjalanan dengan perahu motor. Sewa Perahu beserta guide yang akan menemani kita selama kurang lebih 2 jam, cukup membayar 150rb saja. Sepanjang sungai dipenuhi pohon nipah dan beberapa rumah penduduk dengan hewan-hewan peliharaan di pinggir-pinggir sungai.



Warung tempat titip sepeda motor

Naik perahu dari sini


Melewati goa


Rumah penduduk di pinggiran sungai

Sampai di ujung sungai, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju bukit batu dengan pemandangan alam yang indah dikelilingi bukit-bukit karst.

ujung sungai, dari sini dilanjutkan berjalan kaki 








Setelah puas kami kembali ke rumah penduduk dengan kembali menyusuri sungai. Setelah beristirahat sejenak sambil menikmati teh panas di warung, kami lanjutkan perjalanan menuju leang-leang melewati pabrik semen Bosowa. Leang-leang merupakan situs purba kala yang terdapat jejak kaki manusia purba. Tapi sayang kami tidak naik ke atas goa, karena hujan turun cukup deras. Dari Leang-leang kami menuju taman nasional Bantimurung yang hanya berjarak sekitar 1 km. Arus air sangat deras, jadi orang-orang dilarang untuk berenang dan bermain dibawah air terjun.

Pabrik semen Bosowa

Leang-leang

Jalan pintas dari ramang-ramang menuju bantimurung





Perjalanan dari Bantimurung menuju Makassar cukup lancar. Hanya berkendara sekitar 1,5 jam kami sudah sampai di hotel. 

Pagi-pagi kami menuju pantai Akarena yang terletak tidak jauh dari Trans Studio mall. Suasana pantai masih sepi dan hujan turun cukup deras.




Menjelang siang kami kembali ke hotel untuk checkout. Sebelum menuju bandara kami habiskan waktu di benteng Fort Rotterdam.





Pukul 5.30 sore dengan Bus damri terakhir, kami menuju bandara Hasanuddin. Lagi2 kami harus menginap di bandara karena penerbangan airasia yg harusnya berangkat jam 7 malam, dialihkan jadi jam 4.30 pagi. Untung saja dengan modal boarding pass yg sdh di print duluan, kami bisa langsung menuju ruang tunggu, dan tentunya bisa makan malam gratis lagi di lounge bandara. Lounge ditutup jam 9 malam, artinya kami harus cari tempat lain untuk tiduran sambil menunggu waktu checkin jam 3 pagi. Tepat jam 4.30 pesawat berangkat, dan sampai di jakarta jam 5.30 pagi.

Minggu, 22 Desember 2013

Wisata Pulau Tidung



Jalan-jalan lagi... kali ini gratis dari kantor, lumayan.. meskipun masih di seputaran Jakarta. Kita akan menuju Pulau Tidung di kepulauan seribu yang masih termasuk wilayah propinsi DKI Jakarta. Perjalanan cukup melelahkan, dimulai dari Bekasi berangkat jam 5 pagi dan sampai di dermaga Muara Angke jam 06.30. Kapal kayu menuju pulau Tidung berangkat jam 7 pagi. Kondisi di dalam kapal sangat tidak nyaman. Kapal kayu tidak mempunyai tempat duduk, jadi penumpang hanya lesehan di dalam kapal atau duduk dipingir kapal dan siap2 berbasah2an untuk sampai di Pulau Tidung.


Dermaga Muara Angke


Suasana dalam kapal


Tapi masih jauh lebih baik dibanding kapal di daerah Afrika ini yang harus berlayar selama 14 hari untuk mencapai tujuan dengan kondisi kapal dan penumpang yang bersesakan seperti ini.




 Sekitar pukul 9 sebenarnya kita sudah mendekati dermaga pulau tidung, tapi karena cuaca buruk dan angin yang kencang, kapal-kapal yang menuju pulau tidung terpaksa melabuh jangkar untuk menunggu cuaca membaik. Setelah sekitar 1 jam menunggu tanpa kejelasan kapan kapal bisa merapat, akhirnya kapten kapal memutuskan untuk memutar arah masuk ke Pulau tidung melalui jalur utara. Artinya kapal harus menempuh perjalanan sekitar 1 1/2 jam lagi.

Kapal2 tidak bisa merapat ke dermaga Pulau Tidung


Akhirnya sampai juga kami di Pulau tidung sekitar jam 11.30 siang. Langsung dijemput pihak tour untuk menuju ke penginapan dengan berjalan kaki dari pelabuhan sekitar 10 menit. Cuaca cukup cerah, sampai dipenginapan langsung beristirahat sambil makan siang.



Penginapan 

Penginapan langsung menghadap ke laut


Paket tour sebesar 250rb/orang sudah termasuk tiket kapal PP, penginapan, makan 3x, barbeque dan sewa sepeda masing-masing 1 sepeda untuk berkeliling pulau dan juga tiket untuk bermain banana boat.
Jam 3 sore kami ramai-ramai menuju jembatan cinta dengan bersepeda sekitar 15 menit. Disini kita bisa bermain banana boat dll dan yang punya keberanian juga bisa mencoba terjun dari atas jembatan dengan tinggi sekitar 10 meter.

jalan sepeda menuju Jembatan cinta

parkir sepeda Rp 2.000,- sekali parkir






Jembatan cinta



Menjelang malam kembali ke penginapan. Setelah bersih-bersih langsung makan malam dan dilanjutkan  acara barbegue ikan dan sate cumi jam 9 malam.

Pagi-pagi sudah turun hujan yang cukup lebat, sehingga acara pagi ini sedikit tertunda. Setelah sarapan nasi uduk kotak, sebagian melanjutkan kegiatan dengan berenang di pantai. Dan jam 10.30 checkout dari penginapan menuju dermaga untuk kembali ke Muara Angke.





Sebenarnya kapal yang kami tumpangi untuk menuju muara angke cukup bagus, tapi karena koordinasi di dermaga yang kurang, jadinya lagi2 kami harus naik kapal kayu yang sama waktu kemarin kita datang.


kapal yang harusnya kami tumpangi... sudah masuk  kapal tidak jadi berangkat..






Perjalanan pulang lebih cepat karena cuaca cukup bagus. Dari dermaga Pulau tidung menuju Muara angke ditempuh dalam waktu 2 jam 15 menit.